~diKOPERASIkan aja~

WAJIB DIBACA, DIPAHAMI DAN DILAKSANAKAN SESEGERA MUNGKIN.

Terima kasih Kak Suroto.

==========

 APA YANG TAK KAMU MILIKI TAK BISA KAMU KENDALIKAN


Hari ini ( 22/06) saya diundang  oleh lembaga yang didirikan Magdalena S ( Markonah) dan Mas Hanif Dhakiri, inisiator lembaga pendidikan Nusa-Academy di Tebet, Jakarta. Lembaga yang concern mendidik terutama para santriwan dan santriwati untuk menjadi pengusaha, entreprenuer.  

Saya diundang untuk ngobrolin koperasi bareng 12 siswa Angkatan Kedua. Satu kesempatan yang menyenangkan.  

Saya katakan, koperasi itu bisa dikembangkan di semua sektor bisnis. Dari sekedar penuhi kebutuhan sehari-hari sampai bisnis layanan lain seperti rumah sakit sampai perlistrikan, telekomunikasi, transportasi, dan lain sebagainya. 

Lalu apa bedanya koperasi dan perusahaan lainnya. Mari kita analogikan perbedaan itu dengan PT. PLN. 

PT.PLN  ini ’kan dimiliki negara. Negara dipimpin Presiden. Presiden memilih menteri BUMN dan Menteri BUMN membawahi 118 BUMN, ratusan anak BUMN berikut cicit BUMNnya hingga ribuan. 

Komisaris dan direkturnya PLN ini dipilih di Rapat Umum Pemegang Saham. Tapi pemegang saham utamanya adalah Menteri BUMN, Erick Tohir. Makanya komisaris dan direksinya ya terserah beliau bapak Erick Tohir mau milih siapa. Termasuk contohnya Abdee dari Group Slank untuk jadi Komisaris PT. Telkom. Terserah maunya Pak Erick dan Pak Jokowi yang menentukan. 

Pelanggan PLN kita adalah rakyat. Jumlahnya kurang lebih 80 juta pelanggan. Tapi setiap tahun, keuntungan BUMN yang diambil dari pembayaran langganan masyarakat dimasukkan ke keuntungan PLN sendiri dan sebagian disetor ke kas negara. Setelah dikurangi untuk membayar bunga buat para pemilik modal besar pemberi utang PLN yang sekarang jumlahnya ratusan trilyun. 

Nah, ini bedanya kalau misalnya PLN itu jadi koperasi. Dari 80 juta pelanggannya itu bisa jadi pemilik. Artinya keuntungannya dibagi ke pelanggannya. Siapa yang bayar langganan lebih banyak dapat keuntungan lebih banyak.  

Demikian juga untuk memilih Komisaris dan Direksinya. Karena pemiliknya adalah pelanggan maka komisaris dan direksinya dipilih dari dan oleh anggota pelanggan secara demokratis dari 80 juta pelanggan. Tidak asal comot seperti maunya Pak Menteri BUMN. 

Apakah ada contohnya di dunia ini? Ada. malahan di negara yang kita tuduh kapitalis Amerika Serikat. Disana perusahaan listrik itu dimiliki pelanggan dalam sistem koperasi. Namanya National Rural Elextricity Cooperative Association ( NRECA) yang beroperasi di seluruh negara bagian. 

Nah, bagaimana caranya untuk memahami sistem koperasi ini dalam keseharian kita?. Harus dipraktekin. Nggak hanya diteorikan. Kalau untuk mengkoperasikan PLN, Telkom, Garuda dan ratusan BUMN lainya ya harus jadi Presiden atau Menteri BUMN dulu. Karena apa yang tidak kita miliki itu tak dapat kita kendalikan. 

Siswa Nusa-Academy angkatan kedua yang jumlahnya 12 orang kumpulin uang sepuluh ribuan. Lalu uangnya dipercayakan ke pengurus jujur yang mereka pilih bersama. Tugasnya untuk membuat toko yang jualan kebutuhan siswa anggotanya selama pendidikan berjalan hingga 3 minggu mendatang. 

Pengurus yang terdiri dari Ketua, Sekretaris dan Bendahara nanti di akhir periode bertugas untuk melaporkan seluruh aktifitas bisnis dan keuangannya. Laporin untung atau rugi dan kemudian kalau ada untungnya dibagi secara adil. Siapa yang belanja lebih banyak di koperasi dapat bagian lebih banyak dari keuntungan koperasi. 

Siswi Nusa-Academy terlihat bersemangat dan riang gembira. Mereka ingin sekali segera melihat hasilnya nanti. Mereka bahkan ada yang sampaikan, " andaikan toko ini bisa jalan berarti PLN dan lain-lain nanti bisa dikoperasikan semua  ya kak??? ". Bisa, tapi jadi Menteri BUMN atau Presiden dulu...😊😊😊 

Ayo semangat teman2! Kita koperasikan Indonesia!


Jakarta, 22 Juni 2021

Suroto

Comments

Popular posts from this blog

1/0=~

BERJUANG MEMPERTAHANKAN HAK MILIK